Pengaruh 'Hustle Culture' Terhadap Kesehatan Fisik dan Mental
Bekerja sebagai usaha untuk mencari sumber penghidupan menjadi kewajiban banyak orang, tetapi berbeda dengan hustle culture. Hustle culture merupakan gaya hidup dimana seseorang memiliki daya tarik untuk bekerja terus menerus, kapanpun dan dimanapun.
Biasanya mereka yang menganut gaya hidup ini terkesan tidak memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat, berkumpul dengan keluarga, bersosialisasi dengan teman, berlibur, dan lain sebagainya.
Dengan begitu, seseorang akan kesulitan untuk memiliki work life balance atau keseimbangan faktor-faktor penting dalam hidup. Termasuk didalamnya pada urusan menjaga kesehatan fisik dan psikis.
Pada penelitian yang dipublikasikan di Current Cardiology Reports 2018 lalu menemukan fakta bahwa mereka yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu ditemukan memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular, seperti infark miokard (serangan jantung) dan penyakit jantung koroner.
Jam kerja panjang tersebut bisa meningkatan tekanan darah dan detak jantung karena aktivasi psikologis yang berlebihan yang disertai stress.
Kerja lembur juga berkontribusi terhadap resistensi insulin, aritmia, hiperkoagulasi, dan iskemia di antara individu yang sudah memiliki beban aterosklerotik tinggi, diabetes, bahkan stroke.
Tidak cuma itu, hustle culture juga membawa pengaruh yang besar dalam kondisi psikis seseorang. Memaksa diri untuk mencapai suatu titik di saat tubuh membutuhkan istirahat justru membuat semakin lelah dan stress. ketika stres terus-menerus terjadi, maka tubuh akan melepaskan hormon stres (kortisol) dalam jumlah yang lebih tinggi dan untuk periode yang lebih lama.
Untuk menormalkan peningkatan kadar kortisol yang meningkat, ‘obat’ yang dibutuhkan tubuh sebenarnya adalah istirahat. Namun, budaya hustle culture tidak memberikan waktu untuk istirahat, sehingga kelelahan mental tidak bisa dihindari.
Komentar
Posting Komentar